Apakah Ukhti Bisa Seperti ini ?

"Suatu hari seorang lelaki tua bersama istrinya menemui dokter dengan ragu-ragu dan bingung. Ketika dokter yang bertugas mengobati itu mendekat, tiba-tiba si istri menangis dan menggigil ketakutan. Dokter itu mengira bahwa wanita tersebut kesakitan akibat penyakit yang dideritanya. Lalu ia bertanya kepada suaminya mengenai hal itu. Sambil menahan air mata si suami menjawab, "Dia menangis bukan karena sakit. Dia menangis karena dia akan terpaksa membuka wajahnya kepada laki-laki lain."

Tadi malam dia tidak bisa tidur karena gelisah dan bingung. Dia berkali-kali menegur saya. "Apakah kamu rela bila aku membuka wajahku?" tanyanya.

Dia baru mau datang untuk berobat setelah saya bersumpah untuknya dengan sumpah yang berat, bahwa Allah memperbolehkan hal itu dalam kondisi darurat. Karena Allah berfirman, "Tapi barangsiapa yang terpaksa, tidak menginginkannya dan tidak melampau batas, maka tidak ada dosa baginya.(QS. Al-Baqarah:173).

Saat dokter mendekatinya, ia menjauh dan bertanya, "Anda muslim?" "Ya," jawabnya. Lalu ia berkata, "Jika anda muslim, maka saya minta kepada anda dengan nama Allah untuk tidak membuka penutup saya. Kecuali jika anda merasa yakin bahwa Allah memperbolehkan hal itu bagi anda!"
Operasi terhadap wanita itu berjalan dengan sukses, Selaput putih di matanya berhasil dihilangkan dan ia pun bisa melihat kembali berkat karunia Allah.

Suaminya mengatakan bahwa istrinya pernah berkata, "Andaikata tidak ada dua hal, niscaya aku lebih suka bersabar menerima keadaanku dan tidak ada laki-laki lain yang menyentuhku." Yakni untuk membaca Al-Qur`an, dan melayanimu beserta anak-anakmu. Betapa besar keteguhan hati wanita ini terhadap kemuliaan dan kehormatan dirinya. Dan betapa indahnya bila wanita terlihat terpelihara dan bangga dengan penutup auratnya.

Betapa mulianya iman yang tampil secara nyata, jujur, jauh dari sikap yang dibuat-buat dan berlebihan, serta bersih dari unsur riya (pamer) dan noda-noda hawa nafsu.

Bandingkan dengan wanita-wanita yang merusak rasa malunya dan menyerahkan dirinya kepada para penyeru kenistaan dan juru kampanye modernisasi. Akibatnya, mereka selalu memperturutkan syahwatnya, lalu berlomba-lomba dalam merusak dan melepaskan norma-norma yang adiluhung. Bandingkan mereka dengan wanita yang teguh menjaga kehormatan dan kesuciannya dalam kisah ini!

Dan, betapa hati ini tersayat-sayat pilu dan sedih terhadap gadis-gadis remaja yang takluk kepada hawa nafsunya. Dengan penuh kelalaian dan kebodohan mereka menyerahkan diri kepada setiap orang yang bersuara.

Kisah nyata ini dialami oleh Syaikh Ahmad Ash-Shuyan. Pada edisi Al-Bayan 138

Recommended For You

Akibat Tak Berjilbab

Kakak sepupuku yang sedang berlibur di kampung bersama suami dan anaknya. Dia menyuruh adiknya, sebut saja namanya Lula untuk menempati rumahnya di Parungkuda, Sukabumi. Adiknya minta aku untuk menemani. Terang saja, aku tak menolaknya karena ibuku dinikahi oleh pemuda satu kampung dan akhirnya aku ...

Kisah Kakek Sholeh yang Terlupa

Seorang sahabat bernama Davy bertutur kepada saya tentang pengalaman hidupnya. Beliau yang berprofesi sebagai presenter, artis dan publik figur sering mendapat undangan untuk menghadiri. Dalam sebuah perjalanan bersamanya, saya mendapatkan kisah ini   26 Desember 2004 adalah ta ...