Bukan Sempurna Tapi Terbaik

Sayang..dimana ikat pinggangku?" teriak suamiku.
Kalau saja aku tidak mengingat akhlak Nabi SAW dalam berbicara, rasanya aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu.
Sudah 8 tahun, dan masih saja pertanyaan itu mewarnai aktivitas kami di pagi hari.
"cari dulu dong, mas! Coba di kamar", ujarku seraya membolak - balik roti di atas panggangan.
" sudah kucari tapi engga ada"

Aku tahu, suamiku tidak mencari dengan saksama. Pandangannya tidak menyapu detail. Yah itulah laki-laki. Pandangannnya hanya searah fokus, tapi tidak detail menyeluruh. Alhasil, mereka kerap kesulitan mencari sebuah benda.

Kumatikan kompor dan beralih menghampirinya. Aku membalik pintu dan mengambil ikat pinggang yang tergantung manis di pojok kamar. "ini seruku seraya menyodorkan ikat pingang.

"serius sayang, tadi sudah kubolak balik pintu ini, tapi aku tidak memukan ikat pinggangku, " katanya menutupi keteledoran.
Aku hanya tersenyum kecut dan kembali ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Sebenarnya , aku jengkel dengan kebiasaan yang satu itu. Sudah berulang kali aku ingatkan untuk tidak sembarang meletakkan ikat pinggang, tetapi masih juga diulang.

Itu belum seberapa, masih banyak karakter lain yang bikin aku sewot. Ia orang yang tidak suka berencana, mengalir apa adanya, jauh dari ambisi. Ini terefleksi dalam kadar kegigihan mencari nafkah, keterlibatan mengasuh anak dan upaya melakukan perbaikan dalam kehidupan. Sebaliknya aku memiliki karakter yang bertolak belakan dengannya. Aku orang yang sangat terencana, nyaris perfeksionis, dan berupaya melakukan perubahan meski sedikit demi sedikit. Tak jarang pertengkaran acap tersulut, untuk kondusi yang bertolak belakang ini.

Sampai suatu sore, sepulang kerja. Ane sobatku mengundangku minum teh di sebuah kafe. Ane merupakan salah satu sobat yang berkelimpahan secara meteri. Suaminya merupakan pengusaha sukses yang cukup populer. Jujur, kadangkala aku iri pada ane yang memiliki suami supergigih dalam mencari nafkah.

Kami menikmati sepotong croissant dan secangkir teh dilmah hangat. Karena sudah lama tidak bertemu, kami pun mengobrol, ngalor-ngidul.

Hingga kemudian Ane berkisah tentang kelakuan suaminya yang membuatku terkejut.
"Sebenarnya, ia suami yang luar biasa bertanggung jawab terhadap anak-anak.Tapi aku tidak tahan karakter amarah dan sikap kasarnya, la mudah sekali emosi saat berbicara kepadaku. Kata-katanya kasar, sangat menyinggung,"tutur Ane.

"Kepada anak-anakmu juga?"
"Syukurnya tidak, la begitu mencintai anak-anak, la sangat lembut pada anak-anak."
"Kamu menegurnya?"

"Sudah. Dia berkata tidak bermaksud demikian. Dia hanya bilang,Ini sudah karakterku. Kamukan tahu bagaimana aku?!" ujar Ane menirukan ungkapan suaminya.

"Alasan dia tidak bisa kuterima Sya. Aku senantiasa mengingat kata-kata Noveldi, konselor pernikahan. Seringkali kita tidak mampu membedakan antara prinsip dan ego. Ketika seseorang tidak mau mengubah karakternya yang buruk, maka itu namanya ego, bukan prinsip. Padahal kita semua bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik," lanjut Ane.

Aku menggangguk sepakat. "Hem, barangkali ada peristiwa di masa lalu yang memengaruhi sikapnya terhadapmu. Mungkinkah ayahnya juga bersikap demikian terhadap ibunya sehingga ia menganggap hal itu sebagai sesuatu yang sah dilakukan?"
"Enggak tahu.Tapi yang jelas aku tersiksa dengan emosinya."
"Dia memukulmu?"

"Tidak. Tapi aku tidak tahan dengan kata-katanya yang menyinggung. Beberapa kali aku dibilang bodoh"tutur Ane sambil menyeka air mata yang muncul di ujung matanya.

Aku mengusap punggungnya, merasakan bagaimana harga dirinya terkoyak dengan kata-kata itu. Dalam hati aku tak henti-hentinya bersyukur. Suamiku tidak pernah berkata kasar.Terlebih membodoh-bodohiku.

"Ne, setiap kita pasti diuji. Mungkin sudah paket-mu, mendapatkan suami yang yang pintar mencari nafkah hingga kamu berkelimpahan harta. Akan tetapi di saat yang sama kamu diuji lewat karakter suami yang keras. Sebaliknya aku, suamiku orang yang lembut dan humoris namun tidak segigih suamimu dalam mencari nafkah."

Ane mengangguk lemah.
"Aku jadi teringat kata-kata Ustadzah Ema. Tidak ada manusia yang sempurna. Pasti ada celah ujian yang akan dilalui. Semata mengingatkan dirinya bahwa kesempurnaan hanya milik Allah hingga ia akan sangat bergantung pada-Nya demi menggenapi ketidaksempurnaan itu," ungkapku. Sebetulnya kata-kata ini kutujukan untuk diriku yang belakangan menuntut kesempurnaan suami.

Ane memelukku erat. Tangisnya pecah.
"Suami kita memang tidak sempurna, Sya. Tapi mereka pastinya yang terbaik buat kita Sya. Lewat mereka, Allah memanggil kita untuk berjihad meraih ridha-Nya."Sekali lagi kata-kata ini kutujukan untuk mengobati hatiku yang sedang galau.

Recommended For You

Mimpi Seorang Wanita Shalihah

Pada zaman Rasulullah masih hidup, datanglah seorang wanita kepada beliau saw Wanita tersebut dalam keadaan lumpuh pada tangan kanannya, la menghadap Rasulullah agar beliau saw berkenan mendoakannya sehingga tangannya sembuh dari kelumpuhan. Wanita itu berkata kepada Rasulullah saw, "Wahai Rasulull ...

Manfaat Bacaan Al Quran Bagi Janin

Baru-baru ini saya dikagetkan oleh sebuah fakta baru penelitian bahwa ternyata musik klasik tidak memiliki pengaruh apapun terhadap kemampuan kognitif seorang anak. Itu artinya, mendengarkan musik klasik tidak mencerdaskan anak sebagaimana yang selama ini kita tahu. Selama lebih dari 15 tahun, kita ...