Durhaka Kepada Suami

Durhaka kepada suami adalah menolak untuk melakukan apa yang diminta oleh suami. Adalah kewajiban istri untuk melaksanakan perintah suaminya selama itu dalam rangka ketaatan kepada Allah Swt. Begitu besarnya kewajiban istri untuk mengikuti suami sehingga Rasulullah Saw. pernah menyampaikan bahwa sekiranya beliau diperbolehkan memerintahkan seorang manusia untuk bersujud kepada manusia yang lain, beliau akan memerintahkan para istri untuk sujud kepada suami-suami mereka.

Yang terjadi di masyarakat kita adalah adanya kecenderungan para istri untuk membangkang terhadap suami mereka, termasuk dalam hal ini adalah kelalaian mereka dalam menjalankan tugasnya sebagai istri dan sebagai ibu rumah tangga. Mereka lebih senang sibuk dengan aktivitas di luar rumah, mengejar karier, dan melupakan urusan rumah tangganya. Mereka juga sering kali menganggap pekerjaan melayani suami sebagai pekerjaan yang merendahkan martabatnya, menyerahkan urusan merawat anak kepada pembantu atau babysitter, dan sibuk dalam berbagai perkumpulan arisan atau klub-klub wanita.Tidaklah heran, jika kemudian keluarga-keluarga yang terbentuk adalah keluarga yang jauh dari kriteria baiti jannati, rumah yang betul-betul menjadi the real home bagi para anggota keluarga. Yang terjadi adalah para suami yang karena tidak mendapati istrinya di rumah, kemudian "jajan" di luar; anak-anak yang mencari perlindungan dengan mencoba narkoba, pergaulan bebas, dan sebagainya. Benarlah perkataan bahwa wanita itu adalah tiang negara. Jika tiangnya bagus, insya Allah negaranya juga baik. Sebaliknya, jika tiangnya jelek, akan binasa jugalah suatu negara. Rasulullah Saw. bersabda, "Allah tidak akan memandang kepada wanita yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada suaminya, padahal ia merasa butuh kepadanya"(HR Al-Nasai).

Salah satu bentuk durhaka kepada suami adalah enggan mengakui segala kebaikan yang telah diberikan oleh suami. Dari Asmabinti Yazid Al-Anshariyyah r.a.: Ketika aku sedang duduk bersama orang-orang sebayaku, Rasulullah Saw. lewat dan mengucapkan salam kepada kami. Kemudian, beliau bersabda, "Waspadalah kalian, jangan mengingkari orang-orang yang telah memberikan kenikmatan." Di antara mereka, akulah yang paling berani untuk bertanya kepada beliau. Aku bertanya, "Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan pengingkaran terhadap orang-orang yang telah memberikan kenikmatan?" Beliau menjawab, "Bisa jadi seseorang dari kalian lama menjanda, lalu Allah menganugerahinya suami dan memberinya anak, tetapi ia sangat marah dan mengingkari nikmat, la berkata, Aku tidak mendapatkan satu kebaikan pun darimu" (HR Al-Bukhari dan Ahmad).

Hadis ini mengingatkan kaum wanita untuk selalu bersyukur atas nikmat pernikahan dan kehadiran suami sehingga ia tidak bersikap durhaka kepada suami. Patut diketahui, jalan hidup manusia tidak selalu lurus. Ada lika-liku kehidupan dan berbagai perubahan dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, kesabaran sangat dibutuhkan dalam kehidupan ini.

Recommended For You

Keajaiban Sebuah Harapan

Ketika satu pintu tertutup maka pintu lain terbuka. Namun, kita sering kali terpaku menyesali pintu yang tertutup itu, hingga tak bisa melihat pintu lain yang terbuka bagi kita ~Alexander Graham Bell~ (Ilmuwan dan Penemu) Saya dapat oleh-oleh dari acara kajian semalam. Bukan makanan yang enak, ...

Khitbah Bukanlah Ungkapan Cinta

Dr. Wahbah az-Zuhauliy (kitab fiqh al-Islam wa Adillatuhu, jilid VII) menjelaskan khitbah: menampakan keinginan untuk menikah dengan seorang perempuan tertentu, dengan memberitahukan hal itu kepada perempuan tersebut atau keluarga atau walinya. Sayid Sabiq (kitab Fiqh as-Sunnah, jilid II), menjelas ...