Jika Pasangan Memiliki Ego Tinggi

Seringkali saya mendengarkan curahan hati ibu-ibu yang sedang bermasalah dengan suaminya. Kalimat yang sering saya dengar adalah: ”selalu saja dia tidak mengerti saya, selalu ingin menang sendiri. Jika saya mencari pembenaran, bukankah itu manusiawi untuk saya. Jika sikapnya salah, dan sayalah yang benar”.

Dan itulah sebenarnya yang menjadikan duri dalam daging pada pernikahan. Hal kecil yang terpelihara. Tak beranjak mencari jalan keluarnya, hanya “pasrah” menganggap sikapnya selalu benar, dan sikap pasangannya yang salah. Pernahkah para istri  menanyakan sebenarnya yang diinginkan oleh pasangan hidupnya atas sikapnya atau jalan pemikirannya? Terkadang komunikasi yang kurang lancar, atau bahkan enggan membuka komunikasi untuk menanyakan atau sekedar membahas apa itu ego dengan bahasa yang lebih halus.

Memang, sangat manusiawi sekali jika seseorang ingin pembenar dari sikap, cara bicara dan pola pikirnya, hanya saja itu sama saja menyuburkan sikap mau menang sendiri saat harus berhadapan dengan pasangan hidup. Belum lagi sikap sebal kita melihat pasangan hidup yang dirasa sangat kental sikap egoistisnya, dengan lupa jika kita seringkali melakukan hal sama.

Jangan lupa hal ini jika dibiarkan akan memicu pertengkaran yang tak berkesudahan, apalagi jika tak ada yang mau mengalah. Keharmonisan rumahtangga bisa jadi terganggu dimulai dengan hal-hal kecil yang selalu dipelihara oleh kita, padahal ini bukan harga mati untuk diubah. Menggeleng? Tak percaya, mari simak kisah kecil saya berikut ini.

Saya paling tidak suka dengan ‘ditinggal’ suami dalam waktu lama walau dalam rangka tugas sekalipun. Bukan mengapa, dirumah saya itu sendiri hanya dengan anak-anak, tanpa didampingi anggota keluarga lain. Hingga kehadirannya dalam rumah sangat berarti untuk saya. Meski saya sangat sadar benar, tidak mungkin suami yang bertugas sebagai Dosen dibeberapa perguruan tinggi itu, tak pernah ada tugas keluar kota. Sebenarnya, kondisi itu menjadi lebih mudah saat suami memberitahukan kepergiannya keluarkota dalam jangka waktu tertentu dengan tidak mendadak.

Teknologi informasi bisa ikut membantu, misalnya tak bisa bicara langsung saat itu juga mengenai rencana kepergiannya, bisa digantikan dengan SMS, WA, telepon, bahkan email yang setiap saat saya buka. Hal ini paling tidak saya untuk jaga-jaga hati, bagaimana mendelegasikan diri dalam mengurus anak-anak, perkara antar jemput kesekolah, sampai harus mengunci rumah dan menjaga anak-anak saat malam tiba.

Awalnya hal kecil ini benar-benar menjadi duri dalam daging kehidupan pernikahan kami, dimana dia selalu lupa beritahukan masalah kepergiannya yang terkesan mendadak, dan sayapun hafal dengan sikap saya yang hampir pasti terkesan murka dengan kondisi yang serba mendadak itu. Bisa ditebak apa yang terjadi, acara diam-diaman sepertinya dimulai kembali, karena kami hampir tidak pernah bertengkar secara verbal. Bahkan  terkadang pernah suami tak jadi pergi karena saya terlihat tidak ridha dengan kepergiannya, saat saya punya bayi mungil dengan anak-anak kecil lain dan ditinggal dalam lingkungan sunyi dengan sangat mendadak, dan dia akhirnya mendiamkan saya dalam jangka waktu lama. Sungguh kondisi yang tak mengenakkan, dimana setiap saat saat saya merasa selalu harus mengulurkan tangan menghiba-hiba meminta maaf padanya.

Hal ini berubah, saat saya memberanikan diri untuk mengkomunikasikan ego yang selalu saja dipegang dengan erat dari kami. “Mas, sekarang apa maumu dengan kondisi yang ada? Tahukah kekhawatiran saya saat kau pergi dengan sangat mendadak saat saya diserahi tugas mengurus anak-anak sendirian saja? Saya hanya memintamu satu hal saja. Beritahu saya atas rencana kepergianmu tanpa mendadak dengan cara apapun. Hanya itu permintaan saya. Sekarang terserah keputusanmu atas diam-mu. Saya minta maaf atas apapun yang saya perbuat, juga perasaan saya..”.

Saat itu suami yang tengah kerjakan tugas didepan komputer menghentikan pekerjaannya, menoleh padaku dan memelukku dengan erat. Semenjak itu, saya selalu mengingatkan berulang kali jika “saya tidak terlalu menyukai hal ini, bantulah saya untuk meminimalisasi perasaan”, pada tiap kesempatan. Entah saat acara jalan-jalan pagi bersama, saat santai, saat berpergian didalam mobil dan dimanapun juga. Ternyata, komunikasi itu jalan terampuh dari pasangan untuk mencari titik tengah.

Secara Ajaib, saya bisa mengurangi ‘durasi’ kemarahan, lebih bisa mengelola hati saat dia agak mendadak memberitahukan rencana kepergiannya, juga yang terjadi padanya sama. Dia tidak terlalu marah saat saya mulai cemberut ketika pemberitahuan rencana kepergian terlalu mendadak, karena tahu setelah itu saya bisa cepat ‘move on’ dengan membantu menyiapkan keperluan keberangkatannya.

Kisah sederhana ini sebenarnya sebagai pembukti, jika ego atau perasaan ingin menang sendiri atau membenarkan sikapnya sendiri bisa di tekan sampai ke level terendah, jika para pasangan mau membicarakan, berkomunikasi, mengalah dan mencari jalan yang terbaik.  Jangan membiarkan ego masing-masing tumbuh subur dan menjadi ‘sesuatu yang biasa’ terjadi dan akan hilang seiring berhembusnya angin.

Recommended For You

Manfaat dan Kedahsyatan Puasa Senin Kamis

Berpuasa boleh dibilang sudah lama diketahui sangat baik untuk kesehatan. Tapi, sekarang manfaat berpuasa untuk kesehatan makin terbukti secara ilmiah. Bahkan para peneliti menyarankan bahwa ada baiknya mulai kembali berpuasa karena terbukti puasa dua hari dalam satu pekan sangat bermanfaat untuk ke ...

Kisah Nabi Hud as

"Aad" adalah nama bapa suatu suku yang hidup di jazirah Arab di suatu tempat bernama "Al-Ahqaf" terletak di utara Hadramaut antara Yaman dan Umman dan termasuk suku yang tertua sesudah kaum Nabi Nuh serta terkenal dengan kekuatan jasmani dalam bentuk tubuh-tubuh yang besar d ...