Syukur dan Sabar Kita

Suatu kali Imam Sofyan Ats-Tsauri ditanya : “Mana yang lebih utama orang yang banyak bersyukur atau orang yang banyak bersabar ?”

Imam Sofyan Ats-Tsauri menjawab : “Tidak kah kau membaca surat Shad ?”

Di surat ini Allah menyandingkan hambanya yang paling bersyukur (Nabi Sulaiman) dan hambanya yang paling bersabar (Nabi Ayyub). Allah menyebut keduanya dgn sebutan

ۚ نِعْمَ ٱلْعَبْدُ ۖ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٌ ﴿٣٠﴾
(seutama-utama hamba, karena sangat taat)

Nabi Sulaiman diberi nikmat yang banyak, raja, kaya dan punya kekuasaan meliputi angin bahkan jin.

قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِىٌّ كَرِيمٌ ﴿٤٠﴾

“Berkata Nabi Sulaiman, ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.“” (Q.S.27:40)

Nabi Ayyub dicoba Allah dengan cobaan yang dahsyat. Beliau berumah tangga usia 30 tahun dan istrinya berumur 20 tahun. Selama 20 tahun lamanya beliau selepas pernikahannya diberi Allah nikmat yang besar, anaknya 12 orang ganteng-ganteng, perkebunan, perikanan serta peternakan.

Di tahun ke 21 perkawinannya Allah mulai mengujinya. Hari pertama 12 orang anaknya meninggal bersamaan, hari kedua sakit kulit menerpanya, hari ketiga perkebunannya binasa, hari keempat peternakannya diserang penyakit dan mati semua, hari kelima perikanannya mati semua.

Cobaan itu berlangsung selama 20 tahun dan dia tetap bersabar, Nabi Ayyub menyeru Tuhannya :

وَٱذْكُرْ عَبْدَنَآ أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلشَّيْطَٰنُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ ﴿٤١﴾

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.“” (Q.S.38:41)

Setelah 20 tahun mengalami ujian, barulah Allah mengembalikan nikmatnya dua kali lipat.

Ketika itu usianya sudah 70 tahun , tapi fisiknya seperti 30 tahun dan istrinya 60 tahun , dengan fisik seperti usia 20 tahun. Setiap tahun istrinya hamil anak laki laki kembar. Selama 12 tahun terus hamil kembar, sehingga ketika istrinya berumur 72 tahun anak mereka sudah mencapai 24 orang. Begitulah Allah lalu mengembalikan nikmat kepada Nabi Ayyub yang besarnya menjadi dua kali lipat.

وَوَهَبْنَا لَهُۥٓ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةً مِّنَّا وَذِكْرَىٰ لِأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ﴿٤٣﴾

“Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipatgandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat.” (Q.S.38:43)

‘Ajaba li amril mukminin, kaanaa kullu amrihi khoir.

Menakjubkan dengan urusan orang beriman, setiap urusannya berbuah kebaikan. Ketika bernikmat ia bersyukur, ketika bermusibah ia bersabar.

Sesungguhnya nikmat dan musibah kita hari ini di antara dua titik ekstrim, Nabi Sulaiman dan Nabi Ayyub. Tinggal bagaimana kita bisa bersyukur dengan nikmat dan bersabar dengan musibah.
Ketika Allah mengaruniakan nikmat kepada hambaNya, Dia ingin memberikan kesempatan kepada hambaNya untuk bersyukur. Ketika Dia mengarunikan musibah, Dia hendak memberikan kesempatan kepada hambaNya untuk bersabar dan juga sekaligus untuk menggugurkan dosanya, meninggikan derajatnya di sisiNya dan memuliakannya untuk mendapatkan pelajaran-pelajaran, ibroh-ibroh terbaik.

Atau kita bisa melihat syukur dan sabar ini dari pandangan yang lain. Sabar itu rasa syukur kita menghadapi nikmat yang berbentuk musibah. Syukur itu rasa sabar kita menghadapi musibah yang berbentuk nikmat. Karena di dalam nikmat terkandung ujian-ujian yang tidak kalah beratnya dibandingkan musibah. Dengan nikmat nikmat yang melenakan, melalaikan betapa lebih berbahaya, sedemikian pula di dalam musibah sering ada nikmat-nikmat bagi iman kita. Ingat kepada Allah yang lebih kokoh, ibadah-ibadah yang terasa lebih khusu’, semuanya adalah nikmatnya Allah.

Maka sabar dan syukur ada tempatnya masing-masing, tapi kadang-kadang kita perlu merenungkan yang sebaliknya. Betapa orang kaya perlu bersabar dengan kekayaannya agar tidak jatuh ke dalam kemaksiatan. Betapa orang miskin perlu bersyukur dengan kemiskinannya karena dengan itu ia lebih mesra kepada Allah dan begitu seterusnya berbolak balik sikap itu, sebab hakikatnya satu, takwa kita, iman kita kepada Allah.

Mari bersyukur atas nikmat yang disertai kewaspadaan, dan sabar atas musibah yang disertai dengan muhasabah bahwa nikmat Allah jauh lebih besar dari keluhan kita. Karunia Allah tak dapat kita hitung, sedangkan cobaan Allah amat sedikit sebagai cicipan-cicipan kecil yang akan memperkokoh diri kita dengan pelajaran-pelajaran yang penting dan besar bagi hidup kita kelak sekaligus pahala yang tiada batasnya.

WA INNAMAA TUWAFFA SHOBRAHUM BI GHAIRI HISAAB.

Dan bagi orang-orang yang bersabar terdapat sambutan para malaikat kelak di surga SALAMUN ‘ALAIKUM BIMAA SHOBARTUM (salam sejahtera bagi kalian disebabkan kalian telah bersabar selama hidup di dunia).

Recommended For You

Kristenisasi di Sentul Sudah Melewati Batas Kesabaran

Bagai orang kemalingan lalu lapor ke sesepuh, tak tahunya justru dukun maling Pemurtadan di kawasan Sentul sudah melampaui kesabaran. Mereka mendatangi rumah warga ketika suami mereka bekerja di siang hari. Dengan cara membujuk, para ibu rumah tangga diajak untuk melepaskan agama yang dianut dan me ...

Mendapat Ganti yang Lebih Baik

Seorang ibu berusia 59 tahun bernama Hastuti di Jati Asih Bekasi saat itu sedang gamang. la tengah berdiri di sebuah konter Bank setelah menarik dana sebesar 1 juta rupiah. Rasa sedih menghinggapinya lagi. Hampir saja ia menangis meratapi jumlah saldo tabungannya yang kini tersisa 7 juta sekian. Bu& ...